Dari 10 website ranking teratas dunia versi Alexa.com, terselip dua website dari Asia, yaitu Baidu.com (urutan keenam) dan Qq.com (urutan kesembilan). Kedua website yang merupakan website search engine ini, khususnya Baidu, dianggap akan menjadi ancaman serius bagi Google dan Yahoo!.
Menariknya, baik Baidu maupun Qq keduanya berasal dari negeri yang sama yaitu China. Dan pendiri Baidu, Robin Li, baru-baru ini banyak diperbincangkan karena selain memelopori dan merajai search engine di China juga secara pribadi masuk dalam 10 orang terkaya China 2010. Tepatnya, di urutan ke-5 dengan kekayaan US$ 7,2 miliar (sekitar Rp 84 triliun).
Anak Buruh
Robin Li (Li Yanhong) lahir pada 17 November 1968, di Yangquan, Shanxi, China. Kedua orangtuanya adalah buruh pabrik. Ia memiliki empat saudara dan merupakan satu-satunya anak lelaki di keluarga. Ia masih ingat pesan ibunya agar bisa meraih masa depan lebih baik: “Keluarga kita bukanlah keluarga kaya, karena itu kalau kamu ingin memiliki pekerjaan yang bagus kamu harus belajar keras dan sekolah sampai ke perguruan tinggi!”
Karena itulah sejak kecil ia belajar keras. Hasilnya terlihat ketika ia akan melanjutkan sekolah ke SMA. Dari seleksi yang diselenggarakan di kotanya, ia meraih nilai terbaik kedua dari seluruh peserta seleksi.Lulus SMA pada tahun 1987, ia mengkuti seleksi mahasiswa negeri National Higher Education Entrance Examnination dan meraih nilai terbaik dari semua peserta dari Yangquan. Prestasi itu membawanya kuliah di Peking University dengan mengambil bidang studi manajemen informatika perpustakaan dan lulus empat tahun kemudian.
Pergi ke Amerika
Selepas kuliah tahun 1991, Li sempat kerja serabutan sambil menunggu lamarannya diterima di universitas di Amerika Serikat. “Saya memang mendambakan bisa melanjutkan pendidikan ke Amerika karena di China saat itu situasinya sedang kurang baik (akibat peristiwa demo berdarah mahasiswa tahun 1989 di Tiananmen),” katanya.
Ia mengajukan berpuluh-puluh lamaran ke berbagai universitas di AS dengan harapan salah satunya bisa menerimanya. Akhirnya di penghujung tahun 1991 sebuah panggilan datang dari State University of New York, Buffalo. Di sanalah ia menempuh pendidikan ilmu komputer yang ia selesaikan tahun 1994 dengan meraih gelar master.
Kemudian, Li bekerja sebagai konsultan IDD Information Services di Dow Jones and Company. Sambil bekerja, ia membantu mengembangkan edisi online The Wall Street Journal (mulai tahun 1996). Ia juga mengembangkan search engine dengan sistem algoritma. Setahun kemudian, ia pindah ke Infoseek, sebuah perusahaan search engine milik Disney. Sayangnya di sini ia malah merasa frustrasi karena komitmen Disney untuk mengembang Infoseek kemudian memudar!
Di tengah ketidakyakinan itu, pada tahun 1998 ia mengunjungi Silicon Valley untuk menyelesaikan bukunya berjudul Silicon Valley Business War (tentang persaingan bisnis di industri Internet terutama dalam hal pengembangan dan komersialisasi “pencarian di Internet”).
Dari penelusuran itu, timbul keinginan Li untuk membangun website search engine sendiri. Lalu ia mencari pendanaannya di Amerika dan pulang ke China pada tahun 1999 untuk mewujudkan mimpinya itu.
Li yang Jeli
Li adalah pengusaha yang jeli. Ia tahu benar, China memiliki penduduk 1,3 miliar dan sepertiganya adalah pengguna internet. Jadi, potensi pasar dalam negerinya sangat besar.
Untuk website search engine yang dibangunnya, ia memberi nama “Baidu”. Nama ini terinspirasi oleh sebuah puisi yang ditulis lebih dari 800 tahun silam di China, tepatnya pada masa Dinasti Song (960-1279 Masehi).
Nama “Baidu”, yang secara literal berarti “ratusan kali”, bagi Li memiliki makna “pencarian yang gigih terhadap apa yang dicita-citakan”.
“Secara garis besar, misi kami adalah memberikan cara-cara terbaik bagi orang banyak untuk mendapatkan informasi. Untuk melakukan ini, kami terlebih dahulu mendengarkan dengan cermat setiap kebutuhan dan keinginan para pengguna,” sebut Li dalam sebuah kesempatan.
Sebagai layanan bagi para pengguna Baidu, Li dan timnya terus melakukan perbaikan produk dan layanannya. “Sebagai contoh, kami memperkenalkan pencarian yang memungkinkan para pengguna Baidu untuk mengetik kata kunci dalam bahasa China, namun menggunakan abjad Inggris (pin yin),” paparnya.
“Hingga kini, Baidu telah bekerja dengan baik. Traffic/lalu lintasnya juga terus meningkat,” pungkas Li bangga. “Sekarang Baidu adalah mesin pencari nomor satu di China. Dari 420 juta pengguna internet di China, 70 persen di antaranya adalah para pengunjung Baidu! Nilai pasar Baidu telah mencapai 3 miliar dollar AS.”
Sungguh, melalui kisah Robin Li di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa sifat-sifat kaya mental seperti kreatif, inovatif, dan kerja keraslah yang bisa membawa kita menuju puncak kesuksesan.
Semoga menginspirasi. (andriewongso.com)
Robin Li, Taipan Muda Terkaya Kedua Penantang Raksasa Google
Forbes baru saja merilis 400 orang kaya dari negeri China. Total kekayaan ke-400 orang tersebut mencapai US$423 miliar atau melonjak dibandingkan tahun sebelumnya US$314 miliar.
Orang terkaya nomor satu China dipegang oleh Zong Qinghiu, seorang pengusaha makanan Wahaha Group. Total kekayaan pengusaha berusia 65 tahun ini mencapai US$8 miliar.
Yang menarik justru posisi nomor dua. Peringkat ini malah dipegang oleh pengusaha muda yang namanya melejit di industri teknologi informasi. Dialah Robin Li, pendiri mesin pencari Baidu Inc., sang penantang raksasa Google.
Maklum, selain usianya paling muda yakni 42 tahun, Robin juga dinilai mendapatkan keuntungan dari hengkangnya mesin pencari raksasa Google dari China. Kondisi ini berbuah positif bagi pendapatan Baidu sehingga tidak mengherankan jika kekayaan pribadi Robin terkerek dua kali lipat dari tahun sebelumnya.
Baidu bahkan diperkirakan terus tumbuh setelah mereka berencana mengambil alih situs belanja online Taobao. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Hurun Rich List yang melakukan survei sejak 1993 memasukkan orang terkaya di China mulai usia 34 tahun. Angka ini 15 tahun lebih muda dibanding usia orang terkaya yang disurvei di Eropa dan Amerika Serikat.
Kekayaan Robin Li melejit US$4 miliar dalam setahun menjadi US$7,2 miliar. Lonjakan kekayaan pengusaha berusia 42 tahun ini didorong oleh pesatnya pertumbuhan pengguna internet di China. Saham Baidu melonjak 143 persen dalam setahun ini.
Robin Li memang bukan kali ini saja masuk daftar pengusaha kaya versi Forbes. Bahkan, tahun lalu dia masuk dalam daftar orang terkaya dunia di urutan ke 258.
Kekayaan Li bersama istrinya Melissa Ma, naik dua kali lipat dalam setahun. Harga saham Baidu terus melejit, berkat kinerjanya yang kinclong, serta sukses menghadapi persaingan ketat melawan Google.
Li dikenal bukan saja sebagai pendiri, kini ia juga menjadi chairman dan chief executive officer Baidu, Inc. Dia menjadi sosok pengendali perusahaan internet asal negeri Tirai Bambu ini secara menyeluruh, termasuk soal strategi dan operasi bisnis.
Dalam tempo sembilan tahun sejak Baidu berdiri pada Januari 2000, Li telah sukses membawa Baidu menjadi mesin pencari terbesar di China, yang menguasai lebih dari 70 persen pangsa pasar. Baidu juga menjadi mesin pencari independen terbesar ketiga di dunia.
Pada 2005, Baidu berhasil menyelesaikan IPO di bursa NASDAQ. Pada 2007 pula, Baidu menjadi perusahaan China pertama yang masuk jajaran NASDAQ-100 Indeks.
Sebelum mendirikan Baidu, Li merupakan salah satu pakar mesin pencari di dunia. Analisis hyperlink miliknya yang dipatenkan pada 1996, merupakan salah satu temuan yang menjadi dasar pembentukan Baidu teknologi mesin pencari.
Awalnya, dia bekerja sebagai staf insinyur untuk Infoseek di Silicon Valley, pelopor perusahaan mesin pencari internet, dari Juli 1997 hingga Desember 1999, kemudian sebagai konsultan senior untuk Layanan Informasi IDD dari Mei 1994 sampai Juni 1997.
Li meraih gelar Bachelor of Science Degree dalam bidang Manajemen Informasi dari Peking University pada 1991, serta memperoleh gelar Master of Science Degree di bidang Computer Science dari State University of New York pada 1994.
“China bisa jadi kini memiliki jumlah orang terkaya terbanyak di dunia,”ujar Hoogwerf. Berdasarkan data yang diberitakan dari situs Hurun Report,orang terkaya di China terbanyak bermarga Wang (103), Zhang (95), Li (92), Chen (89), Liu (59), Huang 47, dan Wu (40). (suaramedia.com)
Menariknya, baik Baidu maupun Qq keduanya berasal dari negeri yang sama yaitu China. Dan pendiri Baidu, Robin Li, baru-baru ini banyak diperbincangkan karena selain memelopori dan merajai search engine di China juga secara pribadi masuk dalam 10 orang terkaya China 2010. Tepatnya, di urutan ke-5 dengan kekayaan US$ 7,2 miliar (sekitar Rp 84 triliun).
Anak Buruh
Robin Li (Li Yanhong) lahir pada 17 November 1968, di Yangquan, Shanxi, China. Kedua orangtuanya adalah buruh pabrik. Ia memiliki empat saudara dan merupakan satu-satunya anak lelaki di keluarga. Ia masih ingat pesan ibunya agar bisa meraih masa depan lebih baik: “Keluarga kita bukanlah keluarga kaya, karena itu kalau kamu ingin memiliki pekerjaan yang bagus kamu harus belajar keras dan sekolah sampai ke perguruan tinggi!”
Karena itulah sejak kecil ia belajar keras. Hasilnya terlihat ketika ia akan melanjutkan sekolah ke SMA. Dari seleksi yang diselenggarakan di kotanya, ia meraih nilai terbaik kedua dari seluruh peserta seleksi.Lulus SMA pada tahun 1987, ia mengkuti seleksi mahasiswa negeri National Higher Education Entrance Examnination dan meraih nilai terbaik dari semua peserta dari Yangquan. Prestasi itu membawanya kuliah di Peking University dengan mengambil bidang studi manajemen informatika perpustakaan dan lulus empat tahun kemudian.
Pergi ke Amerika
Selepas kuliah tahun 1991, Li sempat kerja serabutan sambil menunggu lamarannya diterima di universitas di Amerika Serikat. “Saya memang mendambakan bisa melanjutkan pendidikan ke Amerika karena di China saat itu situasinya sedang kurang baik (akibat peristiwa demo berdarah mahasiswa tahun 1989 di Tiananmen),” katanya.
Ia mengajukan berpuluh-puluh lamaran ke berbagai universitas di AS dengan harapan salah satunya bisa menerimanya. Akhirnya di penghujung tahun 1991 sebuah panggilan datang dari State University of New York, Buffalo. Di sanalah ia menempuh pendidikan ilmu komputer yang ia selesaikan tahun 1994 dengan meraih gelar master.
Kemudian, Li bekerja sebagai konsultan IDD Information Services di Dow Jones and Company. Sambil bekerja, ia membantu mengembangkan edisi online The Wall Street Journal (mulai tahun 1996). Ia juga mengembangkan search engine dengan sistem algoritma. Setahun kemudian, ia pindah ke Infoseek, sebuah perusahaan search engine milik Disney. Sayangnya di sini ia malah merasa frustrasi karena komitmen Disney untuk mengembang Infoseek kemudian memudar!
Di tengah ketidakyakinan itu, pada tahun 1998 ia mengunjungi Silicon Valley untuk menyelesaikan bukunya berjudul Silicon Valley Business War (tentang persaingan bisnis di industri Internet terutama dalam hal pengembangan dan komersialisasi “pencarian di Internet”).
Dari penelusuran itu, timbul keinginan Li untuk membangun website search engine sendiri. Lalu ia mencari pendanaannya di Amerika dan pulang ke China pada tahun 1999 untuk mewujudkan mimpinya itu.
Li yang Jeli
Li adalah pengusaha yang jeli. Ia tahu benar, China memiliki penduduk 1,3 miliar dan sepertiganya adalah pengguna internet. Jadi, potensi pasar dalam negerinya sangat besar.
Untuk website search engine yang dibangunnya, ia memberi nama “Baidu”. Nama ini terinspirasi oleh sebuah puisi yang ditulis lebih dari 800 tahun silam di China, tepatnya pada masa Dinasti Song (960-1279 Masehi).
Nama “Baidu”, yang secara literal berarti “ratusan kali”, bagi Li memiliki makna “pencarian yang gigih terhadap apa yang dicita-citakan”.
“Secara garis besar, misi kami adalah memberikan cara-cara terbaik bagi orang banyak untuk mendapatkan informasi. Untuk melakukan ini, kami terlebih dahulu mendengarkan dengan cermat setiap kebutuhan dan keinginan para pengguna,” sebut Li dalam sebuah kesempatan.
Sebagai layanan bagi para pengguna Baidu, Li dan timnya terus melakukan perbaikan produk dan layanannya. “Sebagai contoh, kami memperkenalkan pencarian yang memungkinkan para pengguna Baidu untuk mengetik kata kunci dalam bahasa China, namun menggunakan abjad Inggris (pin yin),” paparnya.
“Hingga kini, Baidu telah bekerja dengan baik. Traffic/lalu lintasnya juga terus meningkat,” pungkas Li bangga. “Sekarang Baidu adalah mesin pencari nomor satu di China. Dari 420 juta pengguna internet di China, 70 persen di antaranya adalah para pengunjung Baidu! Nilai pasar Baidu telah mencapai 3 miliar dollar AS.”
Sungguh, melalui kisah Robin Li di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa sifat-sifat kaya mental seperti kreatif, inovatif, dan kerja keraslah yang bisa membawa kita menuju puncak kesuksesan.
Semoga menginspirasi. (andriewongso.com)
Robin Li, Taipan Muda Terkaya Kedua Penantang Raksasa Google
Forbes baru saja merilis 400 orang kaya dari negeri China. Total kekayaan ke-400 orang tersebut mencapai US$423 miliar atau melonjak dibandingkan tahun sebelumnya US$314 miliar.
Orang terkaya nomor satu China dipegang oleh Zong Qinghiu, seorang pengusaha makanan Wahaha Group. Total kekayaan pengusaha berusia 65 tahun ini mencapai US$8 miliar.
Yang menarik justru posisi nomor dua. Peringkat ini malah dipegang oleh pengusaha muda yang namanya melejit di industri teknologi informasi. Dialah Robin Li, pendiri mesin pencari Baidu Inc., sang penantang raksasa Google.
Maklum, selain usianya paling muda yakni 42 tahun, Robin juga dinilai mendapatkan keuntungan dari hengkangnya mesin pencari raksasa Google dari China. Kondisi ini berbuah positif bagi pendapatan Baidu sehingga tidak mengherankan jika kekayaan pribadi Robin terkerek dua kali lipat dari tahun sebelumnya.
Baidu bahkan diperkirakan terus tumbuh setelah mereka berencana mengambil alih situs belanja online Taobao. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Hurun Rich List yang melakukan survei sejak 1993 memasukkan orang terkaya di China mulai usia 34 tahun. Angka ini 15 tahun lebih muda dibanding usia orang terkaya yang disurvei di Eropa dan Amerika Serikat.
Kekayaan Robin Li melejit US$4 miliar dalam setahun menjadi US$7,2 miliar. Lonjakan kekayaan pengusaha berusia 42 tahun ini didorong oleh pesatnya pertumbuhan pengguna internet di China. Saham Baidu melonjak 143 persen dalam setahun ini.
Robin Li memang bukan kali ini saja masuk daftar pengusaha kaya versi Forbes. Bahkan, tahun lalu dia masuk dalam daftar orang terkaya dunia di urutan ke 258.
Kekayaan Li bersama istrinya Melissa Ma, naik dua kali lipat dalam setahun. Harga saham Baidu terus melejit, berkat kinerjanya yang kinclong, serta sukses menghadapi persaingan ketat melawan Google.
Li dikenal bukan saja sebagai pendiri, kini ia juga menjadi chairman dan chief executive officer Baidu, Inc. Dia menjadi sosok pengendali perusahaan internet asal negeri Tirai Bambu ini secara menyeluruh, termasuk soal strategi dan operasi bisnis.
Dalam tempo sembilan tahun sejak Baidu berdiri pada Januari 2000, Li telah sukses membawa Baidu menjadi mesin pencari terbesar di China, yang menguasai lebih dari 70 persen pangsa pasar. Baidu juga menjadi mesin pencari independen terbesar ketiga di dunia.
Pada 2005, Baidu berhasil menyelesaikan IPO di bursa NASDAQ. Pada 2007 pula, Baidu menjadi perusahaan China pertama yang masuk jajaran NASDAQ-100 Indeks.
Sebelum mendirikan Baidu, Li merupakan salah satu pakar mesin pencari di dunia. Analisis hyperlink miliknya yang dipatenkan pada 1996, merupakan salah satu temuan yang menjadi dasar pembentukan Baidu teknologi mesin pencari.
Awalnya, dia bekerja sebagai staf insinyur untuk Infoseek di Silicon Valley, pelopor perusahaan mesin pencari internet, dari Juli 1997 hingga Desember 1999, kemudian sebagai konsultan senior untuk Layanan Informasi IDD dari Mei 1994 sampai Juni 1997.
Li meraih gelar Bachelor of Science Degree dalam bidang Manajemen Informasi dari Peking University pada 1991, serta memperoleh gelar Master of Science Degree di bidang Computer Science dari State University of New York pada 1994.
“China bisa jadi kini memiliki jumlah orang terkaya terbanyak di dunia,”ujar Hoogwerf. Berdasarkan data yang diberitakan dari situs Hurun Report,orang terkaya di China terbanyak bermarga Wang (103), Zhang (95), Li (92), Chen (89), Liu (59), Huang 47, dan Wu (40). (suaramedia.com)
Albert Einstein (14 Maret 1879–18 April 1955) adalah seorang ilmuwan fisika teoretis yang dipandang luas sebagai ilmuwan terbesar dalam abad ke-20. Dia mengemukakan teori relativitas dan juga banyak menyumbang bagi pengembangan mekanika kuantum, mekanika statistik, dan kosmologi. Dia dianugerahi Penghargaan Nobel dalam Fisika pada tahun 1921 untuk penjelasannya tentang efek fotoelektrik dan "pengabdiannya bagi Fisika Teoretis". Setelah teori relativitas umum dirumuskan, Einstein menjadi terkenal ke seluruh dunia, pencapaian yang tidak biasa bagi seorang ilmuwan. Di masa tuanya, keterkenalannya melampaui ketenaran semua ilmuwan dalam sejarah, dan dalam budaya populer, kata Einstein dianggap bersinonim dengan kecerdasan atau bahkan jenius. Wajahnya merupakan salah satu yang paling dikenal di seluruh dunia. Pada tahun 1999, Einstein dinamakan "Orang Abad Ini" oleh majalah Time. Kepopulerannya juga membuat nama "Einstein" digunakan secara luas dalam iklan dan barang dagangan lain, dan akhirnya "Albert Einstein" didaftarkan sebagai merk dagang. Untuk menghargainya, sebuah satuan dalam fotokimia dinamai einstein, sebuah unsur kimia dinamai einsteinium, dan sebuah asteroid dinamai 2001 Einstein.
Biografi
1. Masa muda dan universitas
Einstein dilahirkan di Ulm di Württemberg, Jerman; sekitar 100 km sebelah timur Stuttgart . Bapaknya bernama Hermann Einstein, seorang penjual ranjang bulu yang kemudian menjalani pekerjaan elektrokimia, dan ibunya bernama Pauline. Mereka menikah di Stuttgart -Bad Cannstatt. Keluarga mereka keturunan Yahudi; Albert disekolahkan di sekolah Katholik dan atas keinginan ibunya dia diberi pelajaran biola. Pada umur lima, ayahnya menunjukkan kompas kantung, dan Einstein menyadari bahwa sesuatu di ruang yang "kosong" ini beraksi terhadap jarum di kompas tersebut; dia kemudian menjelaskan pengalamannya ini sebagai salah satu saat yang paling menggugah dalam hidupnya. Meskipun dia membuat model dan alat mekanik sebagai hobi, dia dianggap sebagai pelajar yang lambat, kemungkinan disebabkan oleh dyslexia, sifat pemalu, atau karena struktur yang jarang dan tidak biasa pada otaknya (diteliti setelah kematiannya).
Di waktu kecilnya Albert Einstein nampak terbelakang karena kemampuan bicaranya amat terlambat. Wataknya pendiam dan suka bermain seorang diri. Bulan November 1981 lahir adik perempuannya yang diberi nama Maja. Sampai usia tujuh tahun Albert Einstein suka marah dan melempar barang, termasuk kepada adiknya.
Minat dan kecintaannya pada bidang ilmu fisika muncul pada usia lima tahun. Ketika sedang terbaring lemah karena sakit, ayahnya menghadiahinya sebuah kompas. Albert kecil terpesona oleh keajaiban kompas tersebut, sehingga ia membulatkan tekadnya untuk membuka tabir misteri yang menyelimuti keagungan dan kebesaran alam.
Meskipun pendiam dan tidak suka bermain dengan teman-temannya, Albert Einstein tetap mampu berprestasi di sekolahnya. Raportnya bagus dan ia menjadi juara kelas. Selain bersekolah dan menggeluti sains, kegiatan Albert hanyalah bermain musik dan berduet dengan ibunya memainkan karya-karya Mozart dan Bethoveen.
Meskipun pendiam dan tidak suka bermain dengan teman-temannya, Albert Einstein tetap mampu berprestasi di sekolahnya. Raportnya bagus dan ia menjadi juara kelas. Selain bersekolah dan menggeluti sains, kegiatan Albert hanyalah bermain musik dan berduet dengan ibunya memainkan karya-karya Mozart dan Bethoveen.
Albert menghabiskan masa kuliahnya di ETH (Eidgenoessische Technische Hochscule). Pada usia 21 tahun Albert dinyatakan lulus. Setelah lulus, Albert berusaha melamar pekerjaan sebagai asisten dosen, tetapi ditolak. Akhirnya Albert mendapat pekerjaan sementara sebagai guru di SMA. Kemudian dia mendapat pekerjaan di kantor paten di kota Bern . Selama masa itu Albert tetap mengembangkan ilmu fisikanya..
Dia kemudian diberikan penghargaan untuk teori relativitasnya karena kelambatannya ini, dan berkata dengan berpikir dalam tentang ruang dan waktu dari anak-anak lainnya, dia mampu mengembangkan kepandaian yang lebih berkembang. Pendapat lainnya, berkembang belakangan ini, tentang perkembangan mentalnya adalah dia menderita Sindrom Asperger, sebuah kondisi yang berhubungan dengan autisme. Einstein mulai belajar matematika pada umur dua belas tahun. Ada gosip bahwa dia gagal dalam matematika dalam jenjang pendidikannya, tetapi ini tidak benar; penggantian dalam penilaian membuat bingung pada tahun berikutnya. Dua pamannya membantu mengembangkan ketertarikannya terhadap dunia intelek pada masa akhir kanak-kanaknya dan awal remaja dengan memberikan usulan dan buku tentang sains dan matematika. Pada tahun 1894, dikarenakan kegagalan bisnis elektrokimia ayahnya, Einstein pindah dari Munich ke Pavia , Italia (dekat Milan ). Albert tetap tinggal untuk menyelesaikan sekolah, menyelesaikan satu semester sebelum bergabung kembali dengan keluarganya di Pavia . Kegagalannya dalam seni liberal dalam tes masuk Eidgenössische Technische Hochschule (Institut Teknologi Swiss Federal, di Zurich) pada tahun berikutnya adalah sebuah langkah mundur;j dia oleh keluarganya dikirim ke Aarau, Swiss, untuk menyelesaikan sekolah menengahnya, di mana dia menerima diploma pada tahun 1896, Einstein beberapa kali mendaftar di Eidgenössische Technische Hochschule. Pada tahun berikutnya dia melepas kewarganegaraan Württemberg, dan menjadi tak bekewarganegaraan.
Pada 1898, Einstein menemui dan jatuh cinta kepada Mileva Maric, seorang Serbia yang merupakan teman kelasnya (juga teman Nikola Tesla). Pada tahun 1900, dia diberikan gelar untuk mengajar oleh Eidgenössische Technische Hochschule dan diterima sebagai warga negar Swiss pada 1901. Selama masa ini Einstein mendiskusikan ketertarikannya terhadap sains kepada teman-teman dekatnya, termasuk Mileva. Dia dan Mileva memiliki seorang putri bernama Lieserl, lahir dalam bulan Januari tahun 1902. Lieserl, pada waktu itu, dianggap tidak legal karena orang tuanya tidak menikah.
2. Kerja dan Gelar Doktor
Pada saat kelulusannya Einstein tidak dapat menemukan pekerjaan mengajar, keterburuannya sebagai orang muda yang mudah membuat marah professornya. Ayah seorang teman kelas menolongnya mendapatkan pekerjaan sebagai asisten teknik pemeriksa di Kantor Paten Swiss dalah tahun 1902. Disana , Einstein menilai aplikasi paten penemu untuk alat yang memerlukan pengatahuan fisika. Dia juga belajar menyadari pentingnya aplikasi dibanding dengan penjelasan yang buruk, dan belajar dari direktur bagaimana "menjelaskan dirinya secara benar". Dia kadang-kadang membetulkan desain mereka dan juga mengevaluasi kepraktisan hasil kerja mereka. Einstein menikahi Mileva pada 6 Januari 1903. Pernikahan Einstein dengan Mileva, seorang matematikawan, adalah pendamping pribadi dan kepandaian; Pada 14 Mei 1904, anak pertama dari pasangan ini, Hans Albert Einstein, lahir. Pada 1904, posisi Einstein di Kantor Paten Swiss menjadi tetap. Dia mendapatkan gelar doktor setelah menyerahkan thesis "Eine neue Bestimmung der Moleküldimensionen" ("On a new determination of molecular dimensions") dalam tahun 1905 dari Universitas Zürich.
Pada saat kelulusannya Einstein tidak dapat menemukan pekerjaan mengajar, keterburuannya sebagai orang muda yang mudah membuat marah professornya. Ayah seorang teman kelas menolongnya mendapatkan pekerjaan sebagai asisten teknik pemeriksa di Kantor Paten Swiss dalah tahun 1902. Di
Tahun 1905 adalah tahun penuh prestasi bagi Albert, karena pada tahun ini ia menghasilkan karya-karya yang cemerlang. Berikut adalah karya-karya tersebut:
Maret: paper tentang aplikasi ekipartisi pada peristiwa radiasi, tulisan ini merupakan pengantar hipotesa kuantum cahaya dengan berdasarkan pada statistik Boltzmann. Penjelasan efek fotolistrik pada paper inilah yang memberinya hadiah Nobel pada tahun 1922.
April : desertasi doktoralnya tentang penentuan baru ukuran-ukuran molekul. Einstein memperoleh gelar PhD-nya dari Universitas Zurich.
Mei : papernya tentang gerak Brown.
Juni : Papernya yang tersohor, yaitu tentang teori relativitas khusus, dimuat Annalen der Physik dengan judul Zur Elektrodynamik bewegter Kerper (Elektrodinamika benda bergerak).
September : kelanjutan papernya bulan Juni yang sampai pada kesimpulan rumus termahsyurnya : E = mc2, yaitu bahwa massa sebuah benda (m) adalah ukuran kandungan energinya (E). c adalah laju cahaya di ruang hampa (c >> 300 ribu kilometer per detik). Massa memiliki kesetaraan dengan energi, sebuah fakta yang membuka peluang berkembangnya proyek tenaga nuklir di kemudian hari. Satu gram massa dengan demikian setara dengan energi yang dapat memasok kebutuhan listrik 3000 rumah (berdaya 900 watt) selama setahun penuh, suatu jumlah energi yang luar biasa besarnya.
Di tahun yang sama dia menulis empat artikel yang memberikan dasar fisika modern, tanpa banyak sastra sains yang dapat ia tunjuk atau banyak kolega dalam sains yang dapat ia diskusikan tentang teorinya. Banyak fisikawan setuju bahwa ketiga thesis itu (tentang gerak Brownian), efek fotoelektrik, dan relativitas spesial) pantas mendapat Penghargaan Nobel. Tetapi hanya thesis tentang efek fotoelektrik yang mendapatkan penghargaan tersebut. Ini adalah sebuah ironi, bukan hanya karena Einstein lebih tahu banyak tentang relativitas, tetapi juga karena efek fotoelektrik adalah sebuah fenomena kuantum, dan Einstein menjadi terbebas dari jalan dalam teori kuantum. Yang membuat thesisnya luar biasa adalah, dalam setiap kasus, Einstein dengan yakin mengambil ide dari teori fisika ke konsekuensi logis dan berhasil menjelaskan hasil eksperimen yang membingungkan para ilmuwan selama beberapa dekade. Dia menyerahkan thesis-thesisnya ke "Annalen der Physik". Mereka biasanya ditujukan kepada "Annus Mirabilis Papers" (dari Latin: Tahun luar biasa). Persatuan Fisika Murni dan Aplikasi (IUPAP) merencanakan untuk merayakan 100 tahun publikasi pekerjaan Einstein di tahun 1905 sebagai Tahun Fisika 2005.
3. Gerakan Brownian
Di artikel pertamanya di tahun 1905 bernama "On the Motion—Required by the Molecular Kinetic Theory of Heat—of Small Particles Suspended in a Stationary Liquid", mencakup penelitian tentang gerakan Brownian. Menggunakan teori kinetik cairan yang pada saat itu kontroversial, dia menetapkan bahwa fenomena, yang masih kurang penjelasan yang memuaskan setelah beberapa dekade setlah ia pertama kali diamati, memberikan bukti empirik (atas dasar pengamatan dan eksperimen) kenyataan pada atom. Dan juga meminjamkan keyakinan pada mekanika statistika, yang pada saat itu juga kontroversial. Sebelum thesis ini, atom dikenal sebagai konsep yang berguan, tetapi fisikawan dan kimiawan berdebat dengan sengit apakah atom benar suatu benda yang nyata. Diskusi statistik Einstein tentang kelakuan atom memberikan pelaku eksperimen sebuah cara untuk menghitung atom hanya dengan melihat melalui mikroskop biasa. Wilhelm Ostwald, seorang pemimpin sekolah anti-atom, kemudian memberitahu Arnold Sommerfeld bahwa ia telah berkonversi kepada penjelasan komplit Einstein tentang gerakan Brownian.
Tahun 1909, Albert Einstein diangkat sebagai profesor di Universitas Zurich . Tahun 1915, ia menyelesaikan kedua teori relativitasnya. Penghargaan tertinggi atas kerja kerasnya sejak kecil terbayar dengan diraihnya Hadiah Nobel pada tahun 1921 di bidang ilmu fisika. Selain itu Albert juga mengembangkan teori kuantum dan teori medan menyatu.
Pada tahun 1933, Albert beserta keluarganya pindah ke Amerika Serikat karena khawatir kegiatan ilmiahnya - baik sebagai pengajar ataupun sebagai peneliti - terganggu. Tahun 1941, ia mengucapkan sumpah sebagai warga negara Amerika Serikat. Karena ketenaran dan ketulusannya dalam membantu orang lain yang kesulitan, Albert ditawari menjadi presiden Israel yang kedua. Namun jabatan ini ditolaknya karena ia merasa tidak mempunyai kompetensi di bidang itu. Akhirnya pada tanggal 18 April 1955, Albert Einstein meninggal dunia dengan meninggalkan karya besar yang telah mengubah sejarah dunia.
Meskipun demikian, Albert sempat menangis pilu dalam hati karena karya besarnya - teori relativitas umum dan khusus - digunakan sebagai inspirasi untuk membuat bom atom. Bom inilah yang dijatuhkan di atas kota Hiroshima dan Nagasaki saat Perang Dunia II berlangsung.
Saat ini belum ada yang dapat saya ceritakan mengenai pribadi saya. Tapi saya yakin kelak saya akan berada di antara jajaran orang-orang yang hebat, dan berada di antara orang-orang yang berpengaruh terhadap indonesia untuk melakukan seuatu perubahan. Saya selalu yakin di balik kegagalan saya akan mendekati kesuksesan, karena kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda yang ingin saya temukan agar menjadi suatu kesuksesan yang bernilai dan berguna untuk perubahan.
"Keep moving forward" adalah kutipan kata yang saya kutip dari sebuah film animasi di mana film itu menceritakan bahwa masa depan seseorang hanya bisa di tentukan oleh diri mereka sendiri. masa depan tiap waktu bisa berubah. hanya keyakinan yang kuat dan juga usaha dan motifasi dari keluarga adalah pintu utama menuju masa depan .
TERPILIHNYA Firmanzah sebagai Dekan FE-UI periode 2009-2013, sekaligus mengukir sejarah sebagai Dekan termuda sepanjang sejarah UI dan sebagai pegawai BHMN pertama yang menjabat posisi Dekan. Menorehkan sejarah di kampus UI dengan menjadi Dekan Fakultas Ekonomi UI termuda, pada usianya yang belum genap 33 tahun (lahir 7 Juli 1976), tak pernah diimpikan oleh Firmanzah. Justru saat kecil impian Fiz (panggilan akrabnya) juga sama dengan kebanyakan anak-anak lain, menjadi astronot maupun insinyur.
Namun perjalanan waktu akhirnya membuat anak ke 8 dari 9 bersaudara pasangan Abdul Latief dan Kusweni ini, bersiap menorehkan catatan tinta-tinta emas selanjutnya dalam memimpin fakultas yang pernah ia cicipi juga sebelum lulus pada 1998 sebagai wisudawan teladan departemen manajemen FE UI ini.
Meski tak begitu maniak dengan sepakbola, sebagai arek suroboyo Fiz cukup kenal dengan filosofi bonek (bondho nekat). ”Saya memang bonek, namun saya ambil sisi positifnya dalam menempuh pendidikan khususnya ketika harus nekat ke Jakarta meneruskan kuliah, baik ketika di FE UI, dan terlebih khusus saat mengambil S2 di UI juga, di mana saya harus ngutang sana-sini untuk bisa membiayai sekolah saya,” kenang Fiz.
Alumni SD Menur dan SMPN 12 Ngagel Surabaya ini, menjadi satu-satunya dari 9 bersaudara yang nekat hijrah ke Jakarta, untuk melanjutkan pendidikan dan meraih asa. Sementara saudara-sadaranya yang lain lebih memilih bergelut langsung dengan dunia usaha, baik jadi pedagang maupun pengusaha. Saudara-saudaranya sempat berkata, ”laopo sekolah duku-dukur, tiwas engkok ga iso kerjo (buat apa sekolah tinggi-tinggi, toh nanti ga bisa kerja). Tapi meski demikian Fiz dapat dukungan penuh dari saudara-saudaranya, yang antara lain diwujudkan dengan memberikan utangan (pinjaman) ke Fiz untuk meneruskan S2-nya.
Datang ke Jakarta pun awalnya tidak terpikirkan, alumnus SMAN 2 Surabaya ini mengaku memiliki ketertarikan yang lebih dalam mengamati pola perilaku individu, kelompok, maupun organisasi. ”Saya suka membuat analisis-analisis,” ungkapnya.
Setelah ngobrol dengan teman-teman se-SMA, maka Fiz pun memberanikan diri pindah ke Jakarta. ”Saat SMA sebenarnya jurusan saya IPA, namun karena saya suka mengamati perilaku orang, teman-temen menyarankan saya mengambil UMPTN jurusan sosial, dan kata mereka yang bagus di FE UI ini, yo wis akhire aku mlebu kene dhadi bonek (ya sudah, akhirnya aku masuk di sini jadi bonek,” tuturnya.
Karena kebutuhan ekononomi, usai menyelesaikan S1, Fiz sempat bekerja dulu di sebuah perusahaan asuransi menjadi market analis pada 1998-1999. Setahun kemudian dia balik lagi ke UI menjadi konsultan dan peneliti pada Lembaga Manajemen UI, sekaligus dengan susah payah menyelesaikan S2-nya di MM (Magister Manajemen) UI, pada 2000.
Tanda-tanda bintang terang mulai menghinggap ketika ditahun yang sama ia mendapatkan beasiswa program setara S2 di University of Science and Technologie of Lille, Perancis. Studi yang dipilih adalah manajemen strategi, dan berhasil dituntaskan hanya setahun. Tak mau tanggung-tanggung, Fiz pun meneruskan studinya S3 di University of Pau et Pays der I'Adour, dan meraih PhD dalam Strategic and International Management. Saat ini, dia tengah menunggu proses guru besarnya di UI. Firmanzah juga tengah menunggu proses meraih gelar setara guru besar di Paris 10, Nantere, Prancis.
Berbekal kemampuan akademik itu, Firmanzah memiliki prestasi yang boleh dibilang luar biasa. Di usianya yang tergolong masih muda itu, dia pernah mengajar beberapa universitas di luar negeri. Di antaranya, mengajar marketing strategi di University of Pau et Pays der I'Adour pada 2004-2005 lalu. Di negara yang sama, dia juga mengajar di Universite de Science et Technologie de Lille dan Universite de Grenoble II. Sejak 2007 sampai sekarang, dia juga masih menjadi tenaga ahli di University of X Nantes Maklum saja, Firmanzah fasih berbahasa Prancis. Fiz juga mengajar di University of Nanchang Tiongkok dan Amos Tuck Business School, Amerika Serikat.
Negara paling romantis di Eropa itu juga memberikan karunia bagi Fiz, karena usai studi di Perancis ia dikenalkan kepada Ratna Indraswari, dara cantik keponakan dari teman Fiz saat studi di Perancis. Dus akhirnya Fiz pun menyunting Ratna pada 2007. Di UI, dia juga dipercaya mengampu mahasiswa program pasca sarjana. Dia sudah meloloskan 10 mahasiswa meraih gelar doktor. Saat ini, dia tengah membimbing 15 mahasiswa untuk meraih gelar yang sama.
Hanya Sekali
”Hidup hanya sekali. Saya ingin melakukan sesuatu di mana kelak Firmanzah dikenal orang karena ingin berbuat sesuatu buat kampus Indonesia, terutama UI,” tegasnya. Karena itulah, Fiz berani maju dan nekat ikut dalam pemilhan dekan. Pencalonan dirinya murni atas dorongan hati nuraninya. Maka, dengan penuh rasa percaya diri Firmanzah bertekad maju dalam pemilihan dekan FE-UI akhir Maret lalu. Ketika itu ada delapan kandidat kuat yang dipilih oleh Panitia Seleksi Calon Dekan (PSCD). Para kandidat dipilih lantaran dinilai panitia memiliki kemampuan leadership dan akademik, kewirausahaan, dan aksesbilitas terhadap negara lain dengan baik.
Total ada 11 panitia yang menyeleksi para kandidat. Mereka terdiri dari perwakilan rektor dan alumni FE-UI. Pemilihan dekan FE-UI dimulai dengan presentasi terbuka di depan seluruh civitas akademika kampus itu. Setelah itu, dilanjutkan dengan fit and proper test. Setelah melalui serangkaian tes itu, kemudian panitia meranking dan memilih tiga besar terbaik. Firmanzah adalah salah satunya. Dia berhasil mengantongi skor paling tinggi sehingga menempatkan dia pada ranking pertama.
Setelah terpilih tiga besar, keputusan selanjutnya ada di tangan rektor. Dari tiga kandidat terkuat itu, boleh dibilang saingan yang harus dihadapi cukup berat. Maklum, salah satu di antaranya adalah wakil dekan FE-UI Prof Sidhar Utama (45) dari jurusan Akuntansi. Tak hanya itu, Sidhar Utama juga mantan dosennya. Segudang pengalaman dalam hal kepimpinan juga sudah tidak asing bagi pesaingnya. Saingan lain adalah Dr Arinda (51) dari Ilmu Ekonomi. Kendati demikian, Firmanzah tak minder. Dia tetap percaya diri. Selanjutnya, rektor menggelar fit and proper test dan presentasi terbuka. Lagi-lagi presentasi dilakukan di depan para mahasiswa, alumni, dosen, maupun staf peneliti. Pengujinya adalah rektor UI sendiri bersama wakil rektor I, II, dan III.
Ketika detik-detik menegangkan itu akhirnya tiba, Firmanzah dibuat terkejut ketika rektor mengumumkan bahwa dialah yang berhak memimpin fakultas bergengsi itu. Dia berhasil mencetak sejarah baru. Menjadi dekan termuda sepanjang sejarah UI. ”Saya begitu terkejut. Apalagi, kandidat lain sudah berpengalaman. Ini semua berkat dukungan teman-teman, dosen, dan staf fakultas ekonomi,” ujar anak ke-8 dari 9 bersaudara itu.
Memimpin fakultas bergengsi dalam usia muda tak membuat dia minder. Maklum, sebelumnya Firmanzah pernah memimpin beberapa departemen di UI. Dia pernah dipercaya sebagai sekretaris Program Departemen Manajemen FE UI. Lelaki berambut ikal ini pernah pula menduduki jabatan sebagai Deputi Direktur Program Pasca Sarjana Ilmu Manajemen FE-UI. Dia juga pernah didapuk sebagai Direktur Kantor Komunikasi UI pada tahun lalu. Civitas akademika UI layak mempercayakan kursi dekan itu kepadanya. Maklum kendati masih muda, pengalaman akademiknya tidak diragukan.
Penulis
selain aktif mengajar, pengagum berat Nabi Muhammad itu juga produktif menulis. Di tengah kesibukannya mengajar dan menjalankan roda kampus, Firmanzah berhasil menelurkan beberapa buku. Buku Manajemen Perubahan yang dia tulis bersama temannya Budi W Soetjipto terbit pada 2006 lalu. Pada tahun yang sama, dia menerbitkan buku keduanya, Globalisasi. Setahun kemudian, Marketing Politik, buku ketiganya berhasil dicetak. ”Ada penerbit dari Singapura yang tertarik untuk mencetak buku ketiga saya,” tuturnya.
Mengelola Partai Politik adalah karya berikutnya. Buku terakhir yang diterbitkannya adalah New Product Launching pada Februari lalu. Buku itu dia tulis dalam bahasa Inggris. Saat ini, Firmanzah tengah menyiapkan buku terbarunya yang berjudul Green Marketing. Buku-buku yang ditulisnya menjadi referensi mahasiswa UI maupun UGM Jogja. Firmanzah juga kerapkali diundang menjadi pembicara di berbagai seminar maupun dialog.
Dengan dipilihnya dia sebagai dekan FE-UI, Firmansyah berharap bisa memajukan institusi yang dibawahinya. Dia ingin mendobrak nilai-nilai konvensional yang masih melekat dalam sebuah perguruan tinggi negeri. Keinginannya adalah membuat mahasiswa UI kritis terhadap persoalan sekitar, dan berkembang ke luar. Ilmu ekonomi, harus mampu berdialog dengan disiplin ilmu lain. Misalnya, dengan filsafat, bahasa, maupun teknologi.Memang segudang tantangan siap menantinya. Namun, Firmansyah seolah tak sabar menghadapinya. Bagi dia, sebuah impian perlu dimiliki semua orang. ”Saya tidak bisa membayangkan orang hidup tanpa impian,” ucapnya.
Meski baru menjalani tugas barunya, Firmansyah mengaku tidak kagok bekerja sama dengan para bawahannya yang lebih senior. ”Sebenarnya ini bukan yang pertama kali saya memimpin anak buah yang usianya lebih dari saya. Yang penting bagaimana cara menghormati dan berkomunikasi dengan mereka,” tuturnya. Dia berharap FE-UI menjadi fakultas yang disegani di mata internasional. ”Saya akan menjalin networking dengan banyak negara. Saya akan bikin berbagai kerja sama yang menguntungkan UI,” imbuhnya. (surabaya post )
Cerita Habibie dan Ainun justru diangkat dari kisah nyata yang diangkat dari buku setebal 323 halaman yang ditulis oleh Habibie, mengenai perjalanan cintanya bersama Alm. Hasri Ainun Besari. Menjelang pergantian tahun 2012, air mata berderai di berbagai bioskop tanah air. Kerinduan akan sebuah tayangan yang mengaduk emosi akhirnya terbayar melalui film Habibie & Ainun. Film yang bercerita tentang kisah cinta BJ Habibie dan Ainun Habibie membuat banyak orang, khususnya wanita, ingin memiliki kisah cinta yang sama, atau setidaknya, sebuah cinta sejati yang luar biasa.
Film Habibie & Ainun dimulai ketika mereka berjumpa pertama kali di masa sekolah. Sejak awal, keduanya digambarkan sebagai siswa siswi cerdas yang oleh para guru ‘diramalkan’ berjodoh. Hanya saja, jiwa muda Habibie belum menemukan sisi cantik dan keteguhan hati seorang Ainun. Bahkan, Habibie mengatakan bahwa Ainun jelek, gendut, hitam.. seperti gula jawa. Sebuah ejekan manis dan sukses membuat banyak penonton tersenyum.
Gula jawaku sudah berubah jadi gula pasir
Waktu bergulir, keduanya melanjutkan sekolah di tempat yang berbeda. Habibie mengambil ilmu teknik mesin, sedangkan Ainun mengambil ilmu kedokteran. Takdir mempertemukan mereka kembali. Ainun yang dulu dikatakan seperti gula jawa, telah memancarkan aura gadis cerdas, teguh dan cantik. Habibie meralat kata-katanya dulu, Ainun tidak lagi menjadi gula jawa, tetapi gula pasir yang murni dan manis.
Waktu bergulir, keduanya melanjutkan sekolah di tempat yang berbeda. Habibie mengambil ilmu teknik mesin, sedangkan Ainun mengambil ilmu kedokteran. Takdir mempertemukan mereka kembali. Ainun yang dulu dikatakan seperti gula jawa, telah memancarkan aura gadis cerdas, teguh dan cantik. Habibie meralat kata-katanya dulu, Ainun tidak lagi menjadi gula jawa, tetapi gula pasir yang murni dan manis.
Sebagai gadis yang cerdas dan cantik, banyak pria yang mengantri untuk mengambil hati Ainun. Habibie yang pada waktu muda bukan siapa-siapa (bahkan dicap miskin) tetap percaya pada hatinya bahwa Ainun adalah gadis yang akan menjadi pendampingnya. Walau teman-temannya pesimis akan sikap Habibie, Habibie yakin bahwa jodoh sudah ada yang mengatur.
Dengan logika ilmu teknik yang dimiliki, Habibie berpendapat
“Mau ganteng atau tidak, kalau hatinya tidak satu frekuensi, bagaimana?”
– BJ Habibie dalam film Habibie & Ainun
Saya akan menjadi suami yang terbaik untuk Ainun...
Sekali lagi, garis jodoh menunjukkan bahwa ‘frekuensi’ Habibie dan Ainun berada pada jalur yang sama dan cocok. Tidak perlu waktu lama hingga Habibie menyatakan rasa suka dan keseriusannya untuk menikah dan membawa Ainun tinggal bersama di Jerman, untuk mendampingi Habibie menyelesaikan sekolah dan impiannya membuat pesawat terbang Indonesia. Inilah kata-kata manis yang membuat Ainun mantap menjatuhkan hatinya pada Habibie.
“Saya tidak bisa menjanjikan banyak hal. Saya tidak tahu apakah hidup kita di Jerman akan sulit atau tidak, apakah Ainun tetap bisa menjadi dokter atau tidak. Tapi yang jelas, saya akan menjadi suami yang terbaik untuk Ainun.”
Mereka berdua akhirnya menikah pada tanggal 12 Mei 1962. Habibie langsung memboyong Ainun untuk tinggal bersamanya di Jerman. Tempat yang jauh dari Indonesia, tempat dimana mereka mulai berjuang membangun sebuah keluarga.
Saya dan Ainun adalah dua raga tetapi dalam satu jiwa
Tinggal di negara orang lain menjadi sebuah perjuangan yang berat. Habibie dan Ainun mengalami masa-masa yang berat, tetapi mereka saling menguatkan, saling menopang. Hingga sedikit demi sedikit, kehidupan mereka semakin baik. Kebahagiaan mereka semakin lengkap dengan kehadiran dua buah hati yang menggemaskan. Saat anak-anak mereka sudah bisa dititipkan pada pengasuh, Ainun kembali rindu untuk menolong orang lain. Dengan izin Habibie, Ainun membuka praktik sebagai dokter anak.
Di sinilah keteguhan seorang istri dan ibu dipertaruhkan. Saat Habibie mulai merakit mimpi-mimpinya, Ainun berada dalam titik penentuan. Di saat Ainun menolong banyak anak dan menyembuhkan mereka dari sakit, justru putranya mengalami sakit. Hal itu membuat pemikiran Ainun berubah. Akhirnya wanita yang lemah lembut ini menanggalkan jubah dokter untuk mengabdi sepenuhnya untuk suami dan buah hati mereka.
Saat Habibie kembali ke Indonesia untuk mewujudkan mimpinya membuat pesawat terbang, Ainun selalu setia mendampingi dan menguatkan suaminya. Juga saat Habibie masuk dalam dunia politik yang penuh godaan uang dan perempuan muda yang cantik, kedua tetap memperjuangkan kesetiaan akan cinta dan pengabdian untuk negara. Ainun tidak pernah lupa menyiapkan obat untuk sang suami, dengan kenyataan bahwa dia sendiri sudah divonis memiliki kanker ovarium. Ainun merahasiakan hal itu dari suaminya, dengan harapan agar Habibie tetap fokus mengemban tugasnya yang semakin berat.
Selamat jalan sayang....
Sedikit demi sedikit, kanker yang diderita Ainun menggerogoti tubuhnya. Habibie akhirnya mengetahui beban berat yang ditanggung Ainun. Berkali-kali operasi dilakukan, bahkan dengan alat kedokteran terbaru di Jerman, tetapi kondisi Ainun tidak kunjung membaik. Bagi Habibie, dia harus memperjuangkan kehidupan Ainun, karena sang istri telah banyak berkorban untuknya. Sesungguhnya, jauh di lubuk hati Ainun, dia tidak pernah merasa dikorbankan, dia tulus mendampingi Habibie dan menjadi istri yang setia, seperti janjinya dahulu sebelum menikah.
Takdir membuat Habibie dan Ainun berpisah. Air mata tidak cukup untuk menunjukkan bagaimana seorang Habibie yang kuat dan tegar harus kehilangan wanita yang sangat dia cintai, wanita tegar yang selalu mendampinginya, wanita yang masih memikirkan kesehatan Habibie disaat dia harus berjuang dengan kanker yang menggerogoti tubuhnya.
PUISI BJ HABIBIE UNTUK ISTRINYA
Dan kematian adalah sesuatu yang pasti ...
Dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu ...
Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat ...
Adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, ....
sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati,.....
AINUN Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ...
Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu ...
Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya ...Dan kematian adalah sesuatu yang pasti ...
Dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu ...
Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat ...
Adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, ....
sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati,.....
hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi ...
Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang ...
Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang ...
Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang ...
Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang ...
Pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada ...
Aku bukan hendak mengeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau di sini ...
Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang ...
tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik ...
Aku bukan hendak mengeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau di sini ...
Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang ...
tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik ...
Mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua,
tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia,
kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini ...
Selamat jalan ... Kau dari-Nya,...
tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia,
kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini ...
Selamat jalan ... Kau dari-Nya,...
dan kembali pada-Nya ...
kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada ...
selamat jalan sayang ...
cahaya mataku, penyejuk jiwaku...
selamat jalan ...
calon bidadari surgaku ... - HABIBIE
selamat jalan sayang ...
cahaya mataku, penyejuk jiwaku...
selamat jalan ...
calon bidadari surgaku ... - HABIBIE
Sebuah kisah cinta dan kesetiaan yang membuat banyak wanita ingin memiliki kisah cinta yang sama. Seperti itulah seharusnya seorang pria, seorang suami, dan seperti itulah seharusnya seorang wanita, seorang istri. Saling menopang, saling menjaga, saling mencinta dan setia dalam kemesraan yang manis.
Kisah cinta yang manis yang dapat menjadi inspirasi besar untuk kita.
Kamu itu orang paling keras kepala dan paling sulit yang pernah aku kenal. Tapi jika aku harus mengulang hidupku, aku akan tetap memilih kamu. – Ainun dalam film Habibie & Ainun
Malam itu aku hanya mampu mengulum doa dalam bibirku. Hanya mampu mengayunkan jemari tanpa tahu siapa yang akan menggapainya. Mereka semakin menjeratku, tangan besar itu kian mencengkeram erat lengan lemah tak berisiku. Belumlah aku sempat melihat merah jingga kembang api di langit New York untuk kali pertamanya, belumlah aku merasakan euphoria hari kemerdekaan negara itu. Justru sekarang darahku tengah serasa membeku merasakan dinginnya permukaan pisau lipat dua orang tak ku kenal sewaktu menuju Stasiun Fleetwood.
Malam itupun akhirnya tak ada nyala merah hijau kembang api yang ku saksikan, tak ada. Yang tersisa hanya membirunya sudut bibirku dan memerahnya T-shirt yang kukenakan. Namun, ada nyala lain yang hadir bahkan lebih indah dari merah hijau kembang api.
Dia seorang bocah merah putih dan yang satu lagi begitu cemerlang. Dia dan Mbak Ati.
Semenjak perjumpaanku dengannya malam itu dia kembali datang, dan kembali lagi. Untuk berbagai hal, yang pasti dia datang menanti untuk menerima dan memberi. Sosoknya mengingatkan aku pada diriku di masa kanak – kanak.
Kanak – kanak yang kuhabiskan di sebuah rumah. Rumah yang ku mengerti bukanlah besar yang menjadi dambaan, namun bagaimana cinta dan kesederhanaan yang menyatukan. Di sanalah aku tumbuh dan berdampingan bersama Bapakku, Ibuku, Mbak Isa, Mbak Inan, Rini, dan Mira. Di rumah beratap anyaman cinta kasih itulah aku tumbuh, menerobos hujan, belajar pada alam akan kekuatan rumput kecil yang tetap tangguh walau terinjak dan tak dianggap. Semua itu dari rumahku yang bertaman walaupun tak luas. Rumah yang membuatku ingin merasakan sedikit ruang bernama kamar. Ku ceritakan tentang rumahku pada dia di beberapa perjalanan, jalan – jalan di New York. Jalan yang tak pernah ku kira akan menapakinya.
Perjalanan di SoHo pagi itu ku habiskan dengan bercerita pada dia tentang bapakku Abdul Hasim. Ku katakana padanya bahwa bapakku adalah seorang sopir angkot di jalan – jalan di sekitar Batu Malang. Bapak yang kini usianya tak lagi muda, bapak yang kini beruban, bapak yang dulu berjuang mati matian untuk bisa membeli mobil sendiri demi kekuatan keluarga yang harus dipertahankan. Diatas Brooklyn Bridge sosok bapak yang pernah jatuh dan bangkit itu tergurat. Ku peluk dia yang berseragam merah putih, dan aku hanya mampu berbisik “aku kangen bapak”.
Hari berikutnya selepas kelas Yoga ku peluk dia yang menemuiku. Seperti ada ketergesaan yang ingin ia tanyakan, dan teryata tentang ibuku. Ibu Ngatinah yang begitu bercahaya. Malaikat kombinasi cinta kasih, keserhanaan, dan ketegaran yang kuat. Pada bagian ini bagaimanapun aku akan menangis, ku ingat detil bagaimana ia yang tak bersekolah tinggi itu begitu lihai mengatur semua yang bisa menyelamatku. Semua yang mungkin bisa mengantarkanku agar terbang atau mendayung kapalku. Dialah angin yang mampu mendorong laju layar kapalku yang berkali – kali hampir berhenti dan kehilangan arah. Ibuku yang paling hebat. Puisi hidupku!
Kesempatan berikutnya pada bocah berseragam merah putih itu ku ceritakan pula kekuatan besar Mbak Isa yang membuka segala awal mimpi dengan segenap prestasi yang Mbak Isa miliki. Sekarang mbak Isa menjadi guru SD. Ku ceritakan sastra yang indah dari Mbak Inan, Mbak yang mengajariku banyak hal. Bahkan selanjutnya, meski dia tak datang ku tuliskan kisah tentang teman setiaku, adik perempuan pertamaku Rini. Hingga ku sambung kisah tentang adikku Mira, yang terindah. Mira yang kini menjadi dokter hewan, gadis pejuang yang hebat.
Ku katakan pada dia lagi, bahwa mereka semua adalah pelangi dalam rumahku. Meski atap rumahku kadang mendung dan hujan, namun semua itu ku yakin akan berganti dan menjadi indah . Mereka adalah cahaya matahari yang menrefleksikan cinta. Mereka adalah matahari yang menrefraksikan kekuatan. Mereka adalah matahari yang mendifraksikan kegembiraan. Hingga tercipta pelangi indah dalam rumah kami.
Hari itu musim gugur saat ku ceritakan tentang suka cita Bapak ketika kelahiranku. Selepas ku puaskan kegemaran baruku, membaca. Ku tuliskan surat tentang aku karena berhari – hari ia tak datang. Ku tuliskan aku yang kecil dalam rumah 6 x 7. Aku yang sering bersungut ketika tetangga berbondong – bondong hendak ikut menonton televisi di ruang keluarga yang kala itu sekaligus tempat tidurku, tempat belajar dan bermainku. Aku yang menghabiskan waktuku untuk berkutat bersama buku. Track record perjalanan pendidikanku hingga mengingat cita – cita tiruanku sebagai handship. Bahkan tentang mimpi dan ruang baru yang teretas dari pesona teater.
Kemudian ku kisahkan ceritaku yang berhasil masuk jurusan statistika IPB lewat jalur PMDK hingga super tour masa KKN. Tak ketinggalan tentang segala badai yang menerpa kapalku. Masa yang mana aku harus bertahan dengan keterbatasan, dengan penghabisan dan pinjaman yang membuatku pernah mengungkapkan ku ingin kerja di kawasan “Blok M”.
Keretakan perjalanan yang ku ukir bagai relief, terlebih ketika aku akhirnya lulus dan menagih janji perubahan. Menyambut profesi di Nielsen Jakarta, berlanjut ke Danareksa, hingga aku terbang ke Amerika dan berjumpa dengan Mbak Ati.
Kemudian dia tersenyum, saat ku ceritakan tentang Aundrey. Wanita yang ku kenal di kelas yoga yang diampu guru spiritualku Rima. Wanita yang sempat ku sediakan yoga mat bersebelahan denganku, wanita yang kemudian pergi sebelum musim gugur datang menjemput.
Di waktu lain, ku ceritakan pula tentang sesuatu. Ini bukan kisah cinta. Ketika itu autumns, ketika itu dia yang datang ke New York, ketika itu dia yang ku sebut Kalista menetap selama delapan hari. Gadis yang ku kenal dari facebook itu, yang menghabiskan enam hari berkunjung ke Central Park. Gadis yang kemudian pergi kembali melanjutkan perjalanannya, yang sempat mengatakan Iwill miss you bukan I love you bukan juga good bye.
Hingga akhirnya kerinduanku pada Batu dan rumah membuncah, menyeruak dari sela – sela kesibukanku menjadi Director, Internal Client Management dia berkata akan pergi. Entah kenapa, setiap ku tanyakan ia hanya berkata bahwa aku telah lebih dari kuat dan dia akan meninggalkanku.
Sampai suatu hari ketika aku akhirnya kembali ke tanah air, ke Indonesia. Dia ikut bersamaku berjumpa Bapak, Ibu, mbak Isa, Mbak Inan dan lainnya termasuk rumahku. Ia melihatku memperagakan yoga pada mereka, ia tersenyum. Hingga kemudian aku mengajaknya mendaki Rinjani. Ada selaksa yang tak pernah bisa ku tuliskan, ada sebuah ruang yang seketika menjadi begitu damai. Ruang yang kemudian mengatakan semua telah berubah dan akan baik lebih baik dari sebelumnya. Ruang yang kemudian mengendap bersama sesuatu yang lain yang saling bicara dalam diam dan kebahagiaan. Ketika itulah dia pergi, dengan tenang dan guratan yang sempurna di puncak Rinjani.
Ketika semua yang menjadi mimpi terdaki. Ketika waktu berjalan, ketika musim berganti. Ketika hati berbicara untuk kembali, saat itulah 9 summers 10 autumns terpungkasi namun tak berakhir.
“Impian harus menyala dengan apapun yang kita miliki meskipun yang kita miliki tidak sempurna, meskipun retak retak”-9 summers 10 autumns (Iwan Setyawan)–(Arf)





